SANG PENDIDIK BARU: Refleksi Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026
Transformasi peran pendidik (guru)
abad ke-21 menjadi sebuah tantangan besar dalam mendidik murid yang hidup di
era global modern instan ini. Aktualisasi kurikulum merdeka sebagai kurikulum
nasional menuntut dan menuntun peran pendidik sebagai guru yang berfungsi
sebagai fasilitator sekaligus mentor bagi murid-muridnya. Berpijak pada
filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara, peran guru IPS memiliki peran
strategis dalam membentuk karakter dan kesadaran sosial agar mampu beradaptasi
pada dinamika global tanpa kehilangan jati diri bangsanya.
Berdasarkan “Trilogi pendidikan”
Ki Hajar Dewantara yaitu “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut
Wuri Handayani” diharapkan dapat (1) menekankan bahwa guru sebagai pendidik harus
menjadi “teladan/role model” dalam menanamkan nilai, moral dan literasi digital
yang transformatif, (2) menumbuh kembangkan semangat, motivasi, inovasi kreatif
yang adaptif dan berkolaboratif bagi murid-muridnya agar aktif, dinamis dan
inovatif, (3) menjadi mentor untuk memberi ruang tumbuh yang nyaman bagi
murid-muridnya untuk berkembang secara mandiri, tangguh dan bernalar kritis
secara optimal sesuai kecerdasan sosial emosional masing-masing. Otonomi guru
sebagai pendidik difasilitasi dalam penyesuaian pengembangan perangkat
pembelajarannya dalam bentuk “modul ajar” sesuai dengan minat dan kebutuhan
belajar agar tercipta lingkungan belajar bermakna, mandiri, bernalar kritis,
inovatif, transformatif dan kolaboratif.
Penguasaan kompetensi guru IPS
sebagai pendidik di bidang sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi serta
pengembangan nilai karakter lintas budaya menjadi modal dasar. Hal ini didukung
optimalisasi teknologi digital dengan memanfaatkan sarana prasarana secara
konteksktual menarik dan menyenangkan bagi para muridnya. Guru IPS abad 21
harus memiliki empati tinggi dalam menghubungkan konsep materi pembelajaran
dengan kearifan lokal dalam tantangan global agar murid-muridnya memahami
relevansi ilmu sosial secara nyata melalui perannya memfasilitasi dan menjadi
mentor murid dalam menciptakan ketrampilan problem solving secara kolaboratif.
Peran pendidik sebagai
fasilitator sekaligus mentor pembelajaran mengarahkan murid-muridnya untuk
belajar sesuai dengan kodrat alam dan kodrat “jiwa” jaman sang murid.
Berlandaskan pada asas kemerdekaan belajar menjadikan guru sebagai pendidik baru yang perlu untuk
menyeimbangkan pola “asah-asih-asuh” sebagai pilar utama mendidik gaya belajar
murid abad ke-21. Guru IPS sebagai pendidik modern abad ke-21 ini berperan
“mendampingi-memfasilitasi-mengarahkan” muridnya mengasah dan menumbuh
kembangkan kemampuan berfikir kritis, literasi informasi, literasi digital
serta membangun empati kolaboratif sebagai modal dasar penanaman belajar
karakter nilai budaya bangsa. Guru IPS melalui strategi pembelajaran mendalam
dengan proses pembelajaran yang “mindfull, joyfull dan meaningfull learning”
memfasilitasi peningkatan keterampilan muridnya untuk memiliki “rasa” empati,
peduli, kolaboratif, adaptif dan penuh kasih sayang agar tercipta lingkungan
belajar yang aman, nyaman dan menyenangkan. Arahan guru sebagai pendidik
sekaligus mentor memberikan bimbingan dan mengarahkan muridnya dengan penuh
kesabaran agar dapat menanamkan pembelajaran berbasis nilai karakter yang
bermoral dan beradab budaya bangsa yang luhur dan bermartabat. Eksplorasi
optimal yang dibebaskan oleh sang guru sebagai pendidik dengan memberikan
arahan secara mandiri bertanggung jawab sesuai kontrak belajar yang disepakati
rambu-rambunya agar dapat melakukan refleksi kolaboratif yang bemanfaat untuk
modal dasar kehidupan nyata bagi murid-muridnya kelak.
Fleksibilitas guru sebagai
pendidik dalam mengembangkan metode, model, strategi dan orientasi proses
belajar mengajar dalam bentuk modul ajar yang berkomitmen untuk menjadi
pembelajaran sepanjang hayat bagi guru sebagai pendidik. Hal ini menjadi bentuk
nyata komitmen guru sebagai pendidik abad ke-21 untuk memastikan bahwa
pendidikan IPS relevan membekali muridnya dengan beragam keterampilan problem
solving yang kolaboratif adaptif transformatif sesuai jiwa jaman sang murid.
Praktik baik dalam pembelajaran
IPS sering kali melibatkan penggunaan isu-isu sosial kontemporer sebagai basis
materi. Misalnya, guru dapat mengajak siswa menganalisis dampak ekonomi digital
terhadap pasar tradisional melalui proyek penelitian mandiri. Dengan cara ini,
guru menerapkan prinsip *Ing Madya Mangun Karsa* dengan menciptakan suasana
belajar yang tidak monoton dan mendorong siswa berperan aktif menemukan solusi
atas masalah sosial. Integrasi nilai-nilai kearifan lokal dengan teknologi
digital terbukti efektif dalam meningkatkan keterlibatan siswa dan daya saing
global mereka tanpa meninggalkan identitas budaya.
Guru IPS abad 21 yang ideal adalah pendidik yang memiliki “jiwa mendidik” yang mampu menyelaraskan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai luhur filosofi Ki Hajar Dewantara. Melalui penerapan Trilogi Kepemimpinan dan sistem Among yang berbasis pada prinsip Asah, Asih, dan Asuh, guru tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menuntun tumbuhnya karakter mandiri murid-muridnya sesuai kebutuhan belajar masing-masing. Kurikulum Merdeka memberikan ruang belajar bersama antara guru sebagai fasilitator-mentor yang kreatif dan adaptif untuk memastikan bahwa setiap muridnya dapat belajar sesuai dengan minat dan potensinya. Integrasi ini memberikan “ruang bagi sang pendidik baru” melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan memiliki kesadaran sosial yang kuat untuk menghadapi tantangan masa depan.
TIM WEB S2PIPS